Spiritualisasi Pendidikan


Oleh: Abu Bakar*

Tanpa disadari gejala sekulerisasi dan dikotomi sistem pendidikan di Indonesia telah berjalan cukup lama dinegeri ini. Wacana untuk menyatuatapkan pendidikan sering terkendala pada politis dan teknis dengan segala argument dan pertimbangannya. Kekhawatiran dan sikap curiga antara lembaga pendidikan umum dengan lembaga pendidikan agama terus berjalan, yang tentunya menimbulkan dampak yang tidak baik bagi perkembangan untuk jangka panjang.
Tanpa menuduh, kecendrungan sekulerisasi pendidikan tanpak begitu kuat, misalnya dari sistem dan orientasi pembelajaran peserta didik disekolah yang sepenuhnya diarahkan untuk mengejar kesuksesan secara fisik dan material, seperti karir, jabatan, kekuasaan dan uang. State of mind generasi kita di-set up dalam kerangka itu, sehingga out put generasinya pun menjadi serba materialistik, konsumeristik, bahkan tidak jarang mengarah kepada hedonistik. Jika dilacak secara epistemologis, maka mata rantai itu terbungkus rapi dan sistemik dalam sistem pendidikan Indonesia, justru tidak lepas dan kontruksi filsafat pendidikan kita yang lebih menitik beratkan filsafat antroposentrisme ketimbang teosentrime. Perbedaan titik pijak dan paradigma ini, berpengaruh kuat terhadap proses pembelajaran dan out put yang dihasilkan.
Begitu juga halnya dengan dikotomi pendidikan. Entah sebab atau justru akibat sekulerisasi pendidikan, yang kemudian terjadi adalah fenomena dikotomi sistem pendidikan di Indonesia. Ini tampak, misal adanya pandangan pendidikan yang begitu dikotomis: satu sisi, ada “pendidikan umum” di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional; disisi lain, ada “pendidikan agama” di bawah Departemen Agama.
Kedua lembaga ini seolah-olah dirancang secara terpisah, fragmentatif dan dikotomis, maka dualisme sistem pendidikan itu melahirkan dikotomi antara “ilmu umum” di satu sisi dan “ilmu agama” pada sisi lain. Lebih jauh lagi, dikotomi itu memproduksi dikotomi lebih baru lagi antara “pendidikan modern” (umum) dan “pendidikan tradisional” (agama).
Bahkan pada tingkat materi kurikulum pun, terjadi dikotomi begitu ketat. Disatu sisi jalur pendidikan agama begitu sedikit dari muatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dan pada sisi lain jalur pendidikan umum berjalan tanpa kendali nilai spiritual-keagamaan. Padahal, kita sudah diingatkan adagium klasik, ilmu berjalan tanpa agama akan buta, sementara agama berjalan tanpa ilmu akan lumpuh.
Spirituliasasi pendidikan mendasarkan bangunan epistemologinya kedalam tiga kerangka ilmu:
Pertma, filsafat pendidikan
Jika pendidikan sekuler mendasarkan diri pada filsafat antroposentrisme, maka spiritualisasi pendidikan tentu mengedepankan filsafat teosentrime. Perbedaan titik pijak ini jelas menimbulkan visi, watak dan sistem pendidikan berbeda. Jika kontruksi pendidikan berangkat dari filsafat antroposentrisme, maka ia lebih mendasarkan diri pada pemikiran manusia dalam rangka “sekulerisasi pendidikan” –umum versus agama- untuk orientasi duniawi semata.
Berbeda dengan spiritualisasi pendidikan yang lebih mengedepankan filsafat teosentrisme, ia bersandar pada pijakan dan orientasi ketuhanan. Tiap kerja manusia, termasuk menimba setetes ilmu pun punyai nilai dan implikasi pada orientasi ketuhanan, juga sebaliknya. Ini sekaligus menjadi rasionalitas minimal untuk mengikis sekulerisasi dan dikotomi sistem perndidikan kita.
Kedua, tujuan pendidikan
Jika pendidikan sekuler bertujuan membangun kehidupan duniawi, seperti sukses, materil, maka spiritualisasi pendidikan diarahkan untuk membangun kehidupan duniawi melalui pendidikan sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan. Ini berarti membangun kehidupan duniawi bukan tujuan final, tetapi sekedar gerbong menuju kehidupan spiritual yang kekal dan abadi sebagai tujuan final perjalanan hidup manusia. Dalam konteks inilah, spiritualisasi pendidikan menumbuhkan segi-segi kesadaran kepada para pelajar akan pentingnya “asal dan orientasi akhir” dari perjalanan hidup, sehingga melahirkan mind set dikalangan pelajar yang lebih spiritual bukan melulu material.
Ketiga, nilai dan orientasi pendidikan
Jika pendidikan sekuler didasarkan pada nilai, sedangkan orientasinya adalah untuk mengembangkan ilmu dan iptek, maka spritualisasi juga mengembangkan iptek berdasarkan imtaq (iman dan taqwa) sebagai ruh spiritual itu sendiri. Maksudnya, segi imtaq menjiwai seluruh proses pendidikan termasuk iptek.

Tasawuf Alternatif Spritualisasi Pendidikan
Ajaran Islam bisa dibagi menjadi dua aspek, yaitu asfek eksoteris (lahiriah) dan asfek esoteris (batiniah). Tetapi pendidikan Islam selama ini lebih menekankan asfek eksoteris dari pada asfek esoteris.
Hal itu misalnya terlihat dalam pengajaran Ibadah. Dalam mengerjakan ibadah, seperti shalat lebih banyak ditekankan pengetahuan tentang syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkannya. Semua ini termasuk pada asfek eksoteris. Sedang asfek esoteris shalat sangat penting untuk membentuk pribadi muslim yang baik.
Begitiu pula dalam mengajarkan tauhid lebih banyak dikemukakan argumen tentang adanya Tuhan, dan kurang diajarkan tentang makna kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia. Makna kehadiran Tuhan merupakan asfek esoteris.
Aspek esoteris dalam Islam disebut tasawuf. Dengan lemahnya pengajaran asfek esoteris Islam selama ini berarti juga bahwa pengajaran tasawuf dalam pendidikan masih kurang. Padahal seharusnya pengajaran tasawuf itu dilakukan secara seimbang dengan asfek eksoteris Islam. Karena tanpa danya pengajaran tasawuf yang seimbang dengan asfek eksoteris, maka peserta didik kurang menghayati makna ajaran Islam.
Jadi, penting sekali ditanamkan sejak dini asfek esoteris dalam mengerjakan ibadah dan amal saleh yang lain. Pendidikan esoteris ini bisa dilakukan misalnya dengan menanamkan penghayatan yang sedalam mungkin akan arti dan makna bacaan dalam shalat. Peserta didik harus diingatkan bahwa shalat itu pada hakikatnya adalah peristiwa yang amat penting dalam dirinya, karena shalat merupakan kesempatan tawajjuh (menghadap) Tuhan. Seluruh bacaan shalat dirancang sebagai dialog dengan Tuhan, sehingga suatu pengalaman ihsan (menyembah Tuhan seakan-akan melihatnya atau sebaliknya seakan-akan kita melihatnya) akan tumbuh dalam jiwa anak.
Dengan demikian, tasawuf merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu diajarkan di sekiolah-sekolah maupun perguruan tinggi, tidak saja untuk mengembangkan agama yang konprehensif dan utuh, tetapi juga untuk mengembangkan kehidupan masyarakat dan bangsa yang bersih, sehat dan maju. Inilah arti penting kaitan antara tasawuf dengan pendidikan dalam Islam.[]

*Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara, S-1 Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara (2005) dan S-2 Pascasarjana Intitut Agama Islam Sumatera Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: