PERBANDINGAN NIKAH SIRI MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF


Judul:

PERBANDINGAN NIKAH SIRI MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

Nama:

MUHAMMAD LUTHFI

Abstraksi:

Perkawinan dalam Islam adalah merupakan ibadah, kepada suami isteri dituntut untuk melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perkawinan yang tidak didaftarkan kepada pegawai pencatat perkawinan/nikah dalam masyarakat kita kenal dengan sebutan nikah siri. Menurut peraturan perundangan (UU No.1 tahun 1974) dan Kompilasi Hukum Islam yang ada di Indonesia suatu peristiwa perkawinan haruslah didaftarkan. Karena hal ini sebagai syarat administrasi. Oleh sebab itu perkawinan yang tidak didaftarkan tidak mempunyai kekuatan hukum. Sebab perkawinan ini tidak dianggap ada.

Kedudukan perkawinan yang dilangsungkan secara siri menurut Hukum Islam dianggap sah asalkan sudah memenuhi syarat dan rukun nikah, dan masing-masing pihak (suami isteri) mempunyai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: