Apresiasi Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan


Oleh: Tuty Alawiyah*

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mu lah Yang Maha-pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, … (Q.S. al-‘Alaq/96: 1-6).

Wahyu pertama kali turun Q.S. al-‘Alaq, dalam surat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Saw. untuk membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, dimana membaca menjadi salah satu proses dari pembelajaran. Di antara sekian banyak kewajiban yang dibebankan kepada kaum Muslim ialah belajar. Begitu pentingnya perintah ini sehingga setiap Muslim diwajibkan untuk belajar, bahkan Nabi Saw. mengeluarkan statamen pentingnya belajar itu dimulai dari saat lahir ke dunia sampai saat meninggal dunia. Dalam hal belajar ini tentunya tidak saja diartikan pergi ke sekolah atau perguruan tinggi atau hanya sekedar membaca buku, tetapi mencari pengalaman juga dapat digolongkan sebagai belajar.
Anjuran agama ini sudah dilaksanakan oleh orang Muslim sejak masa Nabi Saw. kemudian perintah itu memuncak setelah beberapa abad agama Islam disebarkan ke penjuru dunia. Agama Islam muncul di hadapan umat manusia sebagai pembawa ide baru yang dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Nama-nama seperti Jâbir Ibn Hayyân, Al-Kindî, Al-Khawarizmî dan lainnya merupakan ilmuan-ilmuan Muslim yang mampu menemukan hal-hal yang baru terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam pada masa itu juga bersumber dari pembacaan.
Demikian juga temuan-temuan besar yang ada dikenal di dunia ini semua dimulai dengan proses pembacaan yang serius terhadap segala sesuatunya, baik yang berbentuk teks ataupun non-teks. Sehingga tentunya sangat relevan diajukan sebuah pertanyaan kenapa perkembangan ilmu pengetahuan di tengah umat Islam semakin menurun, apakah ini berkaitan dengan intensistas pembacaan kita yang cenderung menurun. Itu semua akan coba dijawab melalui tulisan yang singkat ini, walaupun tidak dibicarakan secara panjang lebar, setidaknya dapat menjadi renungan bagi kita semua.

“Pembacaan”: Inspirasi Ilmu Pengetahuan
Sebagian ilmuan Barat mengatakan Muhammad adalah pengarang Alquran, hal ini tidak dapat diterima orang Islam. Tidak mungkin seorang yang tidak dapat membaca dan menulis menjadi pengarang nomor satu dalam sastra Arab sekelas Alquran, dan memberitahukan soal-soal ilmiah yang tidak dikenal manusia pada waktu itu dapat melakukannya, serta segala keterangannya tidak ada yang keliru meneurut penemuan mutakhir.
Tidak rasional bahwa seseorang yang hidup pada abad VII M. dapat melontarkan dalam Alquran ide-ide mengenai bermacam-macam hal yang bukan merupakan pemikiran manusia pada waktu itu. Ide-ide yang dikemukan itu cocok dengan apa yang akan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan beberapa abad kemudian. Dengan semangat yang berlandaskan Alquran itu juga lah ilmuan Muslim mendapat kesempatan untuk meneliti alam dan mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan perintah Allah Swt. Selain itu, memang ayat-ayat yang ada di alam semesta ini dengan yang ada di dalam Alquran tidak ada pertentangan.
Aspek ini lah yang harus ditekankan bahwa Islam adalah agama amal, suatu ajaran yang harus dipraktekkan oleh pemeluknya dan memahami ajaran agamanya. Jadi pemahaman terhadap agama akan memerlukan keinsyafan bahwa agama itu bukan hanya sekedar ajaran-ajaran semata, tetapi agama dipelajari dan ditafsirkan untuk dipahami maksudnya. Dalam interpretasi ajaran agama bagi pemeluknya itu, para pemuka agama memegang peranan yang amat penting.
Oleh karena itu, tidak mengherankan di dalam Islam ada beberapa mazhab besar, ini adalah hasil interpretasi terhadap ajaran agama, yang satu menginterpretasikan, bahwa misalnya kalau seorang laki-laki menyentuh kulit wanita batal wudhu’nya, tetapi yang lain menginterpretasikan hal yang demikian itu tidak membatalkan. Perbedaan interpretasi di dalam memahami ajaran agama dapat ditolerir selama perbedaan itu masih dalam kaidah-kaidah yang telah ditentukan.
Ayat Alquran mengatakan “bahwa manusia itu diciptakan dari tanah” kalau orang yang menginterpretasikannya seorang yang ahli agama yang sama sekali tidak mengetahui ilmu pengetahuan, maka ia akan mengatakan “bahwa Tuhan menciptakan manusia dari tanah liat yang dibentuk seperti manusia, kemudian dikatakan “kun fayakun” dan hidup menjadi bentuk manusia. Tapi bagi seorang ahli kimia, interpretasi itu akan sangat berlainan. Di dalam ayat yang sama ia akan melihat bahwa Tuhan menciptkan manusia dari unsur-unsur kimiawi yang ada dalam tanah. Unsur-unsur kimiawi itu akan saling berkaitan dalam susunan molekul yang kompleks lalu berinteraksi di sekelilingnya, lalu terbentuklah makhluk yang bernama manusia sebagai makhluk yang tertinggi.
Demikialah interpretasi yang dilakukan seorang ahli agama dan seorang ahli kimia, seandainya mereka saling menyalahkan dalam interpretasi maka ini sangat berbahaya sekali. Tindakan yang demikian itu terhadap interpretasi dapat mematahkan semangat dan mematikan ilmu pengetahuan. Di dalam Alquran sendiri telah dijelaskan, perlunya mengadakan observasi dan meneliti alam yang ada di sekeliling kita untuk dipelajari. Usaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang ada di alam ini sangat perlu karena ilmu pengetahuan dapat membantu untuk lebih memahami ayat-ayat Tuhan. Inilah tantangan terbesar para ahli agama dan ilmuan Muslim abad ini; yakni membangun kesatuan ilmu sebagai perwujudan iman dan penyembahan kepada Allah Swt. dan sebagai bentuk sistematik dari keyakinan tauhid.
Dengan demikian, perlunya dibangun suatu aktifitas serius dalam proses “pembacaan” yang disadarkan pada keimanan yang kuat kepada Allah Swt. supaya menghasilkan satu kesatuan ilmu yang benar-benar sesuai dengan semangat Islam, suatu integritas bernada tauhid dimana ilmu pengetahuan dan dan agama menjadi satu kesatuan ilmu dalam membangun dunia kehidupan dan melaksanakan amanat Allah kepada umat manusia, dan karena tugas dan amanat itu manusia diangkat menjadi khalifah dimuka bumi ini untuk menjaga dan memakmurkannya.[]

*Penulis Dosen Fak. Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara, Menyelesaikan S-1 Fak. Tarbiyah UISU (1991), dan S-2 PPs. IAIN-SU (2007).

One response to this post.

  1. Posted by habibullah on 10/02/2011 at 9:23 am

    mantab

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: