Islam Anti Kekerasan


Oleh: Abu Bakar*

Islam merupakan agama kemanusiaan universal, dalam arti Nabi Muhammad Saw. diutus adalah dalam rangka membawa pencerahan atau sebagai rahmat bagi alam semesta. Pencerahan atau rahmat berarti anti kekacauan, anti kekerasan dan anti penderitaan. Karena misi suci yang dibawa rasul itu adalah menciptakan harmoni, ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Inilah yang menjadi kondisi cita ideal yang dikehendaki oleh setiap anak manusia.
Dalam cita ideal tersebut, harkat kemakhlukan harus dihargai dan junjung tinggi. Pengrusakan terhadap alam dan tindak kekerasan terhadap manusia, akan membawa nestapa bagi manusia itu sendiri. Jika pengrusakan dan tindak kekerasan itu dilakukan oleh seseorang yang memiliki ketaatan simbolik-formalistik yang tinggi sekalipun, keimanan orang tersebut dapat dikatakan palsu. Secara spesifik Allah Swt. berfirman (QS. 107:1-7). “tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah mereka orang suka menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin, maka kecelakaan akan menimpa orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat dengan pamrih dan enggan menolong dengan barang yang fungsional”.
Surat al-Ma‘un ini menjelaskan sifat orang-orang yang memiliki sikap destruktif yang membawa kesengsaraan. Padahal mereka memiliki kesalehan ritual. Hal ini mengindikasikan bahwa kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial tidak dapat menjamin keselamatan. Bukankah penghancuran eksistensi alam dan kekerasan terhadap sesama belakang ini justru banyak pula yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesalehan simbolisme, formalisme yang cukup baik. Indonesia misalnya, yang diklaim sebagai negara yang sangat sosialis-religius, disamping di beberapa wilayah di dunia dewasa ini ternyata banyak terjadi konflik horizontal dan konflik partikal. Dengan jumlah korban yang sangat besar.
Dalam perspektif ini dapat dikatakan bahwa seseorang yang mengklaim dirinya sebagai Muslim berarti secara sadar pula ia akan menciptakan kedamaian dalam seluruh aspek kehidupannya. Sebab Islam ditinjau dari akar katanya berarti “damai” berasal dari kata salam. Sehingga seluruh aspek ibadah ritual dalam Islam sebenarnya memiliki pesan damai, bahkan pesan-pesan damai itu didemonstrasikan secara simbolik dan harus dipenuhi sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah (rukun atau syarat syah ibadah). Misalnya shalat diawali dengan takbiratul ihram, kemudian harus diakhiri dengan salam kanan dan kiri. Di sini takbir meniscayakan terjadinya rekonsiliasi dengan Tuhan, ini berarti perlunya rekonsuliasai dengan sesama manusia. Seorang yang melaksanakan ibadah puasa dengan menahan lapar, haus dan kebutuhan biolois lainnya adalah suatu keharusan. Namun, lebih dari sekedar itu kemudian menanamkan sensifitas sosial, ketika melihat penderitaan orang lain adalah buah atau pesan fungsional dari ibadah puasa yang dilaksanakan itu. Efeknya adalah orang mendapatkan makna puasa itu akan memberi rasa bahagia dan damai (salam) kepada orang lain. Haji pun demikian, ketika semua yang melaksanakan ibadah haji sedang di Arafah, di sana mereka berasal dari pelbagai strata sosial dan multi-etnik dengan semangat kesederajatan umat manusia di hadapan Tuhan. Aspek ini mengandung hikmah bahwa orang yang telah melaksanakan haji harus memiliki rasa solidaritas antar sesama manusia dan tidak boleh melakukan diskriminasi.
Kesalehan formalitas dan kesalahan sosial harus diimplementasikan secara integral-konperhensif. Ketiadaan salah satu dari dua aspek ini akan mengakibatkan yang lainnya palsu. Tetapi suatu hal yang pasti bahwa iman yang meniscayakan kita tunduk patuh dan pasrah kepada aturan Tuhan, sesungguhnya adalah untuk manusia juga. Sehingga iman yang tidak bisa membedayakan dan memberi rasa damai berarti iman seperti itu palsu.
Betapa Islam sangat menghargai harkat kemanusiaan universal, maka melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap seorang manusia tanpa ada alasan yang benar, sama halnya dengan telah membunuh manusia sejagat (QS.5:35). Secara sosiologis Allah Swt. menciptakan manusia yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam multi-etnik dan multi religius, pada sebagai suatu kesimbangan dan untuk saling melengkapi. Kemudian saling menyapa, saling berkompetisi dalam kebajikan untuk kemakmuran hidup. Bukan untuk saling berbantah-bantahan yang mengakibatkan kekerasan dan pembunuhan antara sesama manusia (QS.49:13). Larangan saling membunuh karena semua manusia pada dasarnya adalah umat yang satu yang diciptakan oleh Allah Swt. Diciptakan berbeda merupakan kehendak Ilahi bukan kehendak kita manusia. Maka jangan memperselisihkan perbedaan, apatahlagi merusak perbedaan itu karena perbedaan (multi-etnik dan multi religius) sosial-kemasyarakatan, sesungguhnya menjadi tatanan kesempurnaan sistem kemanusiaan universal (QS.2:213). Sebab manusia merupakan bagian dari eksistensi alam, olehn karena itu membunuh manusia berarti telah merusak tatanan eksistensi kosmis yang telah diciptakan Allah Swt. Firman Allah Swt. (QS.10:86). “Dangan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya …”.
Ayat-ayat di atas menunjukan Islam sangat anti kekerasan. Allah swt tidak menyukai orang melakukan tindak kekerasan yang merusak (QS.2:205). Karena aktivitas fasad (merusak) akan menghancurkan kedamaian dan kebahagiaan manusia. Tindak kekerasan akan selalu menimbulkan rasa kebencianm, sedangkan anti kekerasan akan melahirkan rasa cinta. Kekerasan merupakan akar dari kehancuran, sementara anti kekerasan jalan menunju islah (rekonsiliasi) dan perdamaian.
Seorang Muslim sejati memiliki kelapangan jiwa untuk menerima pluralisme, bersahabat, egaliter dan selalu “bermujahadah” dengan seluruh jiwa raganya untuk membangun kehidupan salam (damai). Karena kata “muslim” secara signifikan berasal dari kata salam seperti halnya kata “Islam. Dengan sendirinya seorang yang menjadi muslim pasti-akan cinta damai dan anti kekerasan sesuai dengan akar kata salam tersebut.
Alquran secara tegas menyebutkan jalan hidup damai yang mesti ditempuh oleh manusia agar terhindari dari kekacauan dan kekerasan, di antaranya penyebutan salah satu nama Allah al-Salam yang Maha Damai (QS.59:23). Barang siapa yang ingin memperoleh keridhaan Allah swt, harus ditempuh melalui subulus salam (jalan-jalan damai), (QS.5:16). Surga sebagai tempat kembali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dalam Alquran disebut dengan Daar as-Salam, (rumah yang damai), (QS.6:127) dan (QS.10:25).
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa anti kekerasan dan cinta kedamaian adalah bagian dari ajaran agama, sekaligus merupakan cita ideal kemanusiaan universal. Namun demikian dalam kehidupan berkelompok apatahlagi dalam masyarakat yang plural, konflik yang dapat mengarah kepada kekerasan merupakan keniscayaan.
Dengan demikian untuk membangun kehidupan yang anti kekerasan dan cinta damai, memerlukan transformasi pemahaman agama, dari pemahaman yang terlalu individualistik-ritualistik dan terlalu elitis- eksktologis kepada pemahaman integratif dan konprehensif, yaitu aspek kesadaran eksistensi yang Ilahi (periketuhanan), akan memberi kesadaran perikemanusiaan. Di sini agama memberi kesadaran untuk menghargai dan memberdayakan manusia. Semakin tinggi semangat religiusitas seseorang, semakin tinggi pula penghargaannya kepada nilai kemanusiaan.[]

*Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara, S-1 Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara (2005), dan S-2 Pascasarjana Institut Agama Islam Sumatera Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: