Jarh wa Ta’dil Calon Legislatif


Oleh: Abu Bakar*

Salah satu aspek ajaran Islam yang sering dilupakan adalah keterbukaan. Dalam transaksi muamalah duniawaiyah, Islam sangat menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan. Transaksi bisnis dapat dibatalkan apabila penjual tidak menyebutkan cacat barang dagangannya pada saat transaksi (ijab-qabul). Mengingat pentingnya keterbukaan, Rasulullah bersabda: Tidak sempurna iman seseorang apabila ia menjual suatu barang dan tidak secara jujur menunjukkan cacatnya.
Begitu pula dengan pernikahan. Islam sangat menganjurkan agar pasangan yang akan melangsungkan penikahan mengenal dengan baik calon istri atau suaminya. Islam melarang “kawin cinta buta” dimana calon mempelai tidak saling mengenal. Dalam proses perkenalan itu, masing-masing pihak harus menjelaskan secara jujur mengenai calon suami atau istri baik secara langsung maupun melalui utusan.
Kebiasaan menyebut kepribadian seseorang juga berlangsung pada zaman Rasulullah. Dikalangan masyarakat Arab terdapat kebiasaan memberikan laqob (gelar) yang didasarkan atas kepribadian dan akhlak seseorang. Misalnya Abu Bakar mendapat gelar as-Siddiq. Gelar ini diberikan karena kejujurannya dan sikapnya yang selalu membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Sebaliknya, Musailamah mendapat gelar al-Kadz-dzab (pembohong). Sebutan ini diberikan antara lain karena kebiasaan berbohong. Kebohongan terbesar adalah pengakuan bahwa dia adalah seorang Nabi yang di utus menggantikan Muhammad yang telah wafat.
Di kalangan ahli Hadis juga terdapat berbagai sebutan terhadap seorang perawi. Misalnya, kadzib (pembohong) atau ‘adil (orang yang adil, bijaksana dan dapat dipercaya). Tradisi seperti inilah yang menjadi titik tolak lahirnya ilmu jarh wa ta’dil.

Jarh wa ta’dil Caleg
Secara fiqhiyyah, pemilihan legislative bisa dianalogikan dengan jual beli atau pernikahan. Proses pemberian suara dapat disebut sebagai “aqd” pernikahan atau “ijab qabul” dalam jual beli. Karena itu sebelum proses pemilihan semua pemilih harus mengenal dengan baik siapa yang akan dipilih. Jika dikaitkan dengan Hadis, maka pemilih harus mengetahui benar siapa yang akan mewakilinya. Caleg adalah wakil rakyat yang diharapkan membawa aspirasi rakyat dengan amanah dan jujur.
Al-Jarh secara bahasa berarti melukai, mencaci maki, membatalkan. Al-Ta’dil berarti menyucikan, menunjukkan kebaikan, memuji. Jika kedua kata tersebut digabung, jarh wa ta’dil berarti menunjukkan kelemahan dan kelebihan seseorang dengan disertai bukti-bukti dan sikap apa yang harus dilakukan terhadapnya. Di dalam ilmu Hadis seseorang dianggap cacat (dhaif) apabila ingatannya lemah, akhlaknya tercela dan pernah berdusta. Apabila seseorang ingatannya lemah, tetapi akhlaknya baik dan tidak pernah berdusta maka Hadis yang diriwayatkan masih bisa diterima apabila tidak bertentangan dengan Hadis yang sahih. Jadi criteria utama yang menjadi ukuran cacat atau adilnya seseorang adalah akhlaknya, terutama kejujurannya.
Para ulama berbeda pendapat mengenai metode jarh wa ta’dil. Pertama, al-ta’dil muqaddam ‘ala al-jarh; kritik yang berisi kelebihan, keutamaan dan pujian kepada seseorang harus dimenangkan atas kritik yang berisi celaan. Hal ini pada dasarnya manusia adalah baik sampai dia ditemukan berbuat dosa. Kedua, al-jarh muqaddam ‘ala al-ta’dil; kritik yang berisi celaan terhadap seseorang harus didahulukan dari pada pujian. Hal ini dapat dilakukan apabila seseorang yang menyebutkan kelemahan orang lain lebih baik dari pada kepribadian dan akhlaknya. Dasar dalam memberikan pujian atau celaan adalah untuk memberikan nasihat dan penyempurnaan. Contoh untuk metode ini adalah celaan atau pujian seorang guru kepada muridnya. Ketiga, ijtima’u al-jarh wa ta’dil fi rawin wahidin; berkumpulnya jarh wa ta’dil dalam diri seseorang. Kritik yang berisi celaan. Dalam hal ini ada yang berpendapat pujian harus di dahulukan dari pada kekurangan. Atau sebaliknya, kekurangan harus disebutkan lebih dahulu baru kebaikan dan kelebihannya.
Dari penjelasan tersebut dapat diambil dua kesimpulan. Pertama, kwalitas seorang perawi Hadis sangat ditentukan oleh kepribadian dan akhlaknya, terutama kejujurannya. Jika seorang pendusta atau pernah berdusta meriwayatkan sebuah Hadis, besar kemungkinan dia berdusta sehingga riwayatnya di tolak. Kedua, kelebihan dan kekurangan seseorang tidak perlu ditutup-tutupi. Penyampaian kelebihan dan kekurangan seseorang justru bisa menimbulkan dampak positif bagi orang yang bersangkutan dan bagi masyarakat. Dengan mendengarkan kritik atau celaan orang lain, diharapkan dia dapat memperbaiki kekurangannya dan sadar akan dirinya.
Karena itu, agar masyarakat tidak salah memilih sebaiknya dilakukan jarh wa ta’dil terhadap para caleg. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal dengan baik kualitas, integritas dan akhlak dari pada caleg sehingga mereka dapat memilih caleg yang tepat. Publikasi atau political tracking seorang caleg tidak bertentangan dengan agama dan tradisi para sahabat. Yang penting publikasi caleg disampaikan secara fair dengan menyebutkan kelebihan dan kekurangan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi, sebagai mana tradisi periwayatan Hadis, akhlak dan kejujuran seseorang merupakan penilaian utama yang menentukan kualitas Hadis. Seseorang yang kurang kuat ingatan tetapi jujur dan berakhlak mulia masih lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang ingatannya kuat tetapi pendusta dan akhlaknya tercela. Caleg yang jujur, memiliki integritas moral-agama lebih baik dibandingkan dengan mereka yang cerdas tetapi tidak jujur, korup dan ahli maksiat. Yang terbaik adalah mereka yang ingatannya kuat (tsiqah), cerdas dan berakhlak mulia. Jika ada caleg seperti yang terakhir ini, pilihlah mereka.[]

*Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam UISU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: