Ketika Islam dibajak:Menuai Aksi Anarkis


Oleh: Abu Bakar*

Di tengah-tengah kemapanan Islam, di India muncul seseorang yang mengklaim dirinya sebagai utusan baru. Sang utusan bernama Mirza Ghulam Ahmad. Mirza kemudian menawarkan sebuah Sistem Operasi baru yang ‘dimodifikasi’ dari Islam. Sistem Operasi baru tersebut kemudian dikenal sebagai Ahmadiyah.
Masalah muncul ketika Mirza memasarkan ajaran tersebut dengan merk Islam. Selain itu, pengguna Ahmadiyah juga diberikan buku panduan baru (kitab) yang diberi nama Tazkirah. Ternyata, Tazkirah sebagian besar diambil dari Al-quran yang kemudian dimodifikasi oleh Mirza. Selain itu, posisi Muhammad tidak menjadi utusan terakhir lagi dan posisinya digantikan oleh Mirza.
Hal tersebut tentu saja menyulut keberatan dan kemarahan sebagian besar kaum Muslimin. Mirza diklaim telah melakukan pembajakan merk Islam. Posisi Ahmadiyah pun menjadi serba tanggung, tidak bisa dikatakan Islam juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah sistem baru, karena platform (aqidah) yang digunakan sudah berbeda.
Sebagian besar kaum Muslimin tidak terlalu mempermasalahkan terjadinya perubahan platform. Masalah terbesar adalah penggunaan merk Islam sebagai ajaran baru tersebut. Jika dilihat dari sudut pandang pengusaha atau sebuah perusahaan, hal ini tentu saja sebuah masalah besar, bahkan hidup-matinya sebuah perusahaan. Terlebih jika merk tersebut sudah mendarah daging dikalangan penggunanya. Dari sisi hukum, penggunaan merk yang sama tidak bisa dibenarkan dan merupakan sebuah pelanggaran berat. Apalagi dilakukan secara terang-terangan.
Oleh sebab itu, kekhawatiran kaum Muslimin sangat bisa dimengerti dan menjadi sebuah kewajaran jika kaum Muslimin menuntut pembubaran Ahmadiyah atau meminta menggantinya dengan merk yang baru. Inti masalahnya bukan terletak pada ketakutan atas berkurangnya pengguna Islam, akan tetapi lebih kepada kesalahpahaman yang dimungkinkan akan terjadi terhadap kaum Muslimin dan Islam itu sendiri.
Shakespeare berpendapat, “apalah artinya sebuah nama“. Saya berpendapat, “hanya orang yang kurang memahami yang percaya pendapat Shakespeare“. Sebab ternyata pe-nama-an menjadi sangat penting dalam banyak hal. Allah saja mengajarkan Adam nama-nama benda terlebih dahulu. Di sisi lain, nama juga bisa menjadi fungsi koreksi jika ada pernyataan atau kutipan yang diatasnamakan terhadap seseorang.
Dalam kasus Ahmadiyah, penggunaan nama Islam jelas tidak bisa diterima karena ‘platform’-nya saja sudah berbeda. Di dalam agama Kristen pun pernah terjadi ‘perubahan’ platform tersebut. Sehingga muncul Protestan sebagai nama baru sebuah agama. Orang Katolik tidak mau disebut Protestan, begitu juga sebaliknya.
Penggunaan isu HAM pun menjadi tidak relevan karena persoalannya bukan terletak pada boleh-tidaknya seseorang beribadah dan meyakini sesuatu. Bayangkan saja anda memiliki sebuah perusahaan yang sudah anda bangun bertahun-tahun, sudah memiliki nama besar dan dikenal banyak orang. Lalu tiba-tiba, muncul sebuah perusahaan dengan nama yang sama dan diklaim sebagai perusahaan yang sama dengan perusahaan yang anda miliki.
Saya yakin anda pun akan menuntut pembubaran atau meminta perusahaan tersebut mengganti nama bahkan anda pun berhak untuk meminta ganti rugi atau menuntut mereka ke pengadilan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan HAM, karena itu adalah sebuah pelanggaran. Justru anda dan perusahaan anda telah menjadi korban pembajakan. Jika kemudian terjadi penyimpangan di lapangan oleh karyawan perusahaan tersebut, perusahaan anda pun akan menjadi terkena imbasnya. Anda tentu tidak ingin nama baik perusahaan rusak atau memberikan ganti rugi jika terjadi kerugian dipihak pengguna.
Di sisi lain, anda pun tentu akan melakukan gerakan penyadaran kepada para pengguna produk perusahaan ‘saingan’ anda tersebut bahwa produk tersebut bukan produk anda. Atau anda akan mengatakan bahwa perusahaan anda tidak pernah mengeluarkan produk seperti itu. Keberatan anda bukan pada para pengguna karena menggunakan produk ‘bajakan’ tersebut, akan tetapi pada perusahaan pembajak tersebut yang sudah semena-mena menggunakan nama perusahaan anda. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, demi menjaga nama Islam itu sendiri.
Inti permasalah kasus Ahmadiyah adalah pada penggunaan nama Islam oleh Ahmadiyah. Salah satu cara agar Ahmadiyah tetap bisa leluasa bergerak dan ‘menjual produknya’ adalah dengan mengganti nama dan melepaskan embel-embel Islam. Selama nama Islam masih melekat pada Ahmadiyah, selama itu pula kaum Muslimin akan tetap mempermasalahkan. Sayangnya, Ahmadiyah sepertinya tidak pernah berniat mengganti nama Islam.
Oleh sebab itu, dalil HAM tidak bisa digunakan dan tidak relevan karena kasus yang terjadi sesungguhnya bukan pada pelarangan Jemaah Ahmadiyah untuk meyakini apa yang diyakininya atau pelarangan beribadah. Persoalan keyakinan dan ibadah adalah urusan personal yang dilindungi dan dihormati oleh Islam. Akan tetapi, penggunaan nama Islam untuk Ahmadiyah tetap tidak bisa dibenarkan. Sebab Ahmadiyah merupakan sebuah entitas yang berbeda dengan Islam jika ditinjau dari platform (aqidah) Islam yang dibawa oleh Muhammad saw.
Bagi Ahmadiyah, ganti nama. Dengan resiko Ahmadiyah akan kehilangan beberapa Jemaahnya karena tidak merasa lagi sebagai orang Islam. Saya berpendapat begitu karena saya meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah di Indonesia sebagiannya karena mengusung nama Islam. Oleh sebab itu, ketika Ahmadiyah dinyatakan bukan Islam, ada kemungkinan banyak Jemaah yang keluar dari Ahmadiyah. Namun, tentunya Ahmadiyah tidak akan merasa khawatir dengan hal tersebut jika meyakini bahwa banyaknya jemaah Ahmadiyah bukan karena mengusung nama Islam.

Menuai Tindakan Anarkis
Hal di atas itulah yang menimbulkan tindak-tindak anarkis sebagian masa FPI, memang tidak semata-mata murni timbul karena ideologi “garis kerasnya” dalam memahami Islam. Ada konteks di luar kelompok ini yang dianggap tidak peka terhadap persoalan-persoalan yang dianggap mengharuskan orang untuk menghormati dan menghargainya. Dalam hal ini, pemerintah adalah konteks realitas yang kerap kali lemah dan kurang tegas terhadap komitmennya dalam melindungi hak setiap warganya, terutama warga yang ingin menyuasanakan diri secara tenang dalam menjalankan ajaran agama.
Sayangnya, komitmen pemerintah untuk menjalankan kebijakan sebatas di atas kertas, hitam di atas putih. Dalam praktiknya, tidak ada gerakan massif dan nyata elemen pemerintah. Itu pula yang membuat sebagian umat Islam terpancing untuk melakukan tindakan hakim sendiri.
Di sini, kesalahan secara adil tidak hanya ditimpakan kepada kelompok FPI yang anarkis, tetapi juga pemerintah yang demikian loyo dan seakan memberikan ruang bagi munculnya tindak-tindak anarkis. Ketika pemerintah, yang notabenenya adalah pihak yang paling berwenang untuk mengatasi permasalahan ini, tidak melakukan dengan secepatnya.
Sebagai sebuah agama, Islam mengutuk keras tindakan kekerasan terhadap orang lain, termasuk komunitas non-Muslim. Jangankan menodai Islam dengan kekerasan yang mengalirkan darah, memaksa kehendak dalam beragama dan keyakinan adalah larangan yang menjadi proyek besar Islam demi terciptanya kesejukan antar manusia yang berbeda.
Mengatasnamakan agama dalam tindakan kekerasan, keonaran serta teror yang berlebihan sebenarnya akan menebarkan streotip agama (Islam) sebagai pemicu kekerasan. Padahal ruh Islam adalah adanya proses perwujudan sikap ramah, sejuk serta damai sebagaimana semangat ini dimaknai dari kata Islam yang berakar dari kata salima (selamat).
Tindakan kekerasan, brutalitas, bahkan peperangan atas nama agama bukan barang baru dalam sejarah peradaban manusia. Pelaku tindakan ini merasa paling beriman di muka bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia, mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan.[]

*Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara, S-1 Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara (2005), dan S-2 Pascasarjana Intitut Agama Islam Sumatera Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: