Memaknai disyari’atkannya Puasa


Oleh: Habibullah*

Hai orang-orang beriman diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Q.S. al-Baqarah: 183

Ayat al-Qur’an di atas mengajak orang-orang yang beriman untuk mengerjakan syari’at puasa dengan tujuan agar mereka dapat naik menuju jenjang taqwa. Ajakan ini tidak lagi bersifat himbauan tapi sudah berbentuk kewajiban karena tujuan yang ingin dicapai sudah merupakan kepastian. Artinya, jika orang-orang mukmin mengerjakan puasa dengan baik dan benar maka pastilah mereka akan mendapatkan sifat taqwa. Ajakan untuk melaksanakan ibadah puasa pada dasarnya menunjukkan adanya potensi yang sangat luar biasa dalam ibadah ini. Oleh karena itu, Allah hanya mengajak orang-orang yang beriman saja untuk melaksanakannya.
Masalahnya kemudian adalah, semua orang berkehendak dengan sebutan prestisius (amanuu) itu, lalu merasa terwajibkan untuk menunaikan puasa. Kejelasan kriteria amanu itu tidak diuraikan lebih jauh, kendati Q.S. an-Nur: 51 sudah jelas memaparkan mengenai orang beriman itu, yakni orang yang jika diajak berhukum kepada hukum Allah dan Sunnah Rasul, akan menjawab samina wa athona (kami pahami dan kami laksanakan).
Ajakan khusus ini menunjukkan bahwa hanya orang-orang mukmin sajalah yang dapat menyahuti potensi besar yang terkandung di dalamnya. Potensi yang besar ini dapat juga dipahami ketika al-Qur’an menyebutkan secara jelas tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa yaitu taqwa. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menggapai tujuan yang mulia ini maka diperlukan syarat yaitu keimanan.
Taqwa mendorong manusia untuk bisa bekerja sama dalam kebaikan dan selalu menolak suatu kegiatan yang mendatangkan dosa. Derajat taqwa lebih tinggi bila dibandingkan dengan derajat iman, sebab orang yang beriman belum tentu bertaqwa, tapi orang yang bertaqwa berarti tingkat keimanannya cukup tinggi. Banyak orang beriman tapi tidak mau beramal shaleh, misalnya tidak mau mengerjakan shalat, tidak mau membayar zakat dan lain sebagainya sehingga ada seruan agar orang yang telah beriman lengkapilah dengan taqwa. Taqwa terletak dihati manusia yang berakal. Kombinasi gerak antara otak dan hati inilah yang menjadikan orang tergerak untuk bertaqwa kepada Allah atau bahkan menentang perintah Nya. Oleh karena itu Konsep ketaqwaan adalah sebagai halte terakhir Ramadhan.
Ironisnya, betapa banyak para penguasa muslim yang telah mengerjakan puasa mungkin puluhan tahun lamanya, namun mereka tetap saja menerapkan aturan-aturan prodak non Islam di tengah-tengah ummatnya. Mereka menjadi penjaga aturan-aturan itu dan penabuh genderang peperangan melawan syari’at Islam dan para pengembannya. Seluruh tipu daya dan makar mereka kerahkan untuk menghambat para pengemban dakwah yang ingin menegakkan kalimat Allah SWT. Puasa yang telah mereka lakukan puluhan tahun tidak memberikan bekas apapun. Mereka tetap tidak menyukai penerapan syari’at Islam. Tidak jarang diantara mereka bahkan bahu-membahu untuk menggagalkannya. Puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu menjadikan diri kita hanya ridha untuk diatur dengan aturan-aturan Allah SWT, bukan dengan aturan-aturan produk non Islami.
Puasa bukan hanya menjadikan diri kita lemah secara fisik. Lebih jauh dari itu, puasa juga harus mampu melemahkan syahwat kita, hingga akhirnya kita memiliki kecenderungan yang baik. Kecenderungan hanya ingin berbuat baik, dan beribadah kepada Rabb-Nya dengan penuh keikhlasan dan ketawadlu’an. Puasa harusnya semakin membersihkan qalbu kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah dan lemah dalam bermaksiyat. Dengan puasa, syahwat (nafsu negatif) harusnya bisa dilemahkan sedangkan keinginan-keinginan baik semakin ditingkatkan. Jika kita masih memuja hawa nafsu dan melemahkan tuntunan agama yang baik, sungguh puasa kita belum mendapatkan hasil yang optimum. Dengan kata lain, puasa yang sudah puluhan tahun kita kerjakan ini belum mampu mengubah akhlaq kita, menjadi akhlaq yang lebih baik. Semakin lama kita berpuasa, harusnya syahwat kita semakin lemah, keimanan dan hati kita semakin jernih dan cemerlang. Semakin lama kita semakin menjadi orang yang lemah dan lembut, pemaaf, sabar, menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda.
Di sisi yang lain, semakin lama kita berpuasa semakin rindu dan cinta kepada terwujudnya penerapan syari’at Islam secara menyeluruh di muka bumi ini. Kita semakin membenci aturan-aturan kufur, antek-antek orang kafir, serta penguasa-penguasa yang enggan dan menelantarkan penerapan syari’at Islam. Kebencian ini kita refleksikan dengan cara berjuang dan mengingatkan para penguasa dengan cara yang baik (ihsan). Sungguh jika syahwat kita sudah lemah sebagaimana lemahnya fisik kita, maka setelah mengerjakan puasa kita akan menjadi hamba-hamba Allah yang memiliki pola sikap (nafsiyyah) yang tangguh dan kuat. Puasa tidak ditujukan untuk melemahkan fisik kita, akan tetapi melemahkan syahwat kita yang buruk.
Sungguh, jika hal ini telah kita pahami bersama, tentu ibadah puasa kita di bulan Ramadhan, dan ibadah-ibadah di bulan yang lain akan bermakna dan semakin optimal. Bagi seorang muslim, ibadah puasa merupakan wahana pembinaan agar kita semakin serius dan disiplin dalam mengerjakan seluruh perintah Allah SWT. Selain itu, puasa mereka wahana yang bisa mengantarkan kita menjadi mukmin yang berakhlaqul karimah. Lebih dari itu, puasa merupakan cambuk bagi kita agar kita meninggalkan aturan-aturan kufur yang lahir dari peradaban non Islam dan kembali kepada syari’at Islam.
Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk memulai dan merealisasikan seluruh sifat-sifat kebaikan dan membersihkan kotoran yang menodai “kertas putih” jiwa kita. Setelah 11 bulan kita terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan, maka dalam bulan Ramadhan ini kita diajak untuk kembali ke kampung halaman rohani, yang basah dan menyejukkan, serta penuh dengan suasana lembut. Bulan Ramadhan ibarat ‘oase’ di tengah padang pasir, memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu.
Ibadah puasa yang kita lakukan sesungguhnya berfungsi untuk mensucikan hati kita dan meningkatkan kesadaran ketuhanan (syari’at Islam) itu, yang diharapkan dapat menjadi dasar dan landasan terbentuknya nilai taqwa. Kesadaran ini sangat menonjol pada orang yang berpuasa. Itu sebabnya, orang yang berpuasa tetap menahan lapar dan haus, meski baginya terbuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk berbuka (ifthar), tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Hal demikian tidak dilakukan karena ia menyadari sepenuhnya bahwa Allah Maha Mengetahui dan hadir dalam dirinya.
Inilah kesadaran ketuhanan dan inilah sesungguhnya taqwa. Kesadaran ketuhanan tidak akan terealisir kecuali dengan kesucian hati. Menurut sebagian ulama, hadist nabi yang menyatakan, “al-shawm-u li wa Ana Ajzi bih-i,” bukan berarti puasa itu milik-Ku, dan Aku akan membalasnya, tetapi lebih bermakna bahwa puasa itu untuk meningkatkan kesadaranmu kepada-Ku, dan Aku akan membalasnya. Interpretasi ini lebih memperlihatkan hubungan puasa dengan kesadaran ketuhanan tersebut. Wallau ‘alam.[]

*Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam UISU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: