Muhammad: Nabi Pemungkas


Oleh: Abu Bakar*

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi (khatam al-nabiyyîn). Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab:40)

Bukan rahasia lagi bahwa saat kita sangat disibukkan dengan munculnya beberapa isu seputar masalah “Nabi baru”, “Nabi palsu” yang pasti tidak hanya melibatkan lembaga formal sekelas MUI, FPPI, melainkan juga mengikut serta hampir seluruh organisasi keagamaan. Akan tetapi, di antara aksi-aksi yang muncul terkadang melibatkan unsur kekerasan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sesungguhnya. Terlepas dari semua itu sesuatu yang pasti isu ini bukan hanya murni isu keagamaan, melainkan tentunya “ditumpangi” kepentingan tertentu.
Terlepas itu semua untuk itulah tulisan yang singkat ini dikemukan sebagai upaya untuk memperjelas apa sebenarnya yang menjadi muara permasalahan karena isu “Nabi baru”, “Nabi palsu” sebenarnya dalam Islam bukan lah hal yang baru, melainkan sudah ada dikenal sejak masa Nabi masih hidup. Dalam paragraf berikut akan diperbicangkan tentang konsep Nabi terakhir dengan merujuk kepada sumber utama ajaran Islam sebagai upaya untuk mendudukkan isu ini secara lebih proporsional.

Muhammad Sebagai Penutup Para Nabi
Perbincangan seputar konsep Nabi terakhir sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. al-Ahzab di atas menimbulkan kontroversi antara umat Islam dengan jama‘ah Ahmadiyah. Umat Islam meyakini bahwa Nabi Muhammad ialah penutup para Nabi (khatam al-nabiyyîn). Jumhur Ulama sepakat kalimat khatam al-nabiyyîn ini di interpretasikan sebagai penutup para Nabi yang pernah di utus Allah Swt. ke muka bumi ini. Dalam kalimat yang sama kaum Ahmadiyah menginterpretasikan khatam al-nabiyyîn dengan arti “cincin permata”. Kalau sekiranya kita artikan khatam al-nabiyyîn “cincin permata” segala nabi, tentu Nabi Muhammad itu tidak lagi Nabi hanya “cincin perhiasan” para Nabi yang mempunyai cincin itu ialah Nabi bukan cincin itu sendiri.
Perbedaan interpretasi itu menimbulkan polemik yang cukup panjang. Ini penting dibicarakan karena konsep Nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para Nabi dan Rasul adalah cukup sentral dalam sistem keimanan dan merupakan simpul akidah bagi umat Islam. Keyakinan bahwa Muhammad Saw. penutup utusan Allah berimplikasi bahwa rentetan turunnya wahyu Allah yang diberikan kepada para Rasul, semenjak Nabi Adam a.s. dipandang telah sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian sesudah ayat terakhir turun “hari ini aku (Allah) sempurnakan bagimu agama mu, lengkaplah untuk mu nikmat-Ku dan Aku rida bagimu Islam sebagai agama” (Q.S. al-Maidah/3: 3). Berakhirlah proses penurunan wahyu dari Allah tidak ada lagi wahyu ataupun kitab suci (tazkirah). Penjelasan ini menunjukkan bahwa terdapat evolusi di dalam agama, dimana Islam dimunculkan sebagai bentuk terakhir. Dengan demikian, Islam merupakan agama yang paling memadai dan sempurna.
Jumhur ulama tidak mengenal istilah adanya Nabi pengiring sesudah Nabi Muhammad Saw. sebagaimana yang dipahami oleh kaum Ahmadiyah Qadiyan yang mengklaim Mirzâ Khulam Ahmad sebagai Nabi yang tidak membawa syari‘at. Akan tetapi, meneruskan syari‘at Muhammad Saw. ulama-ulama ialah pewaris Nabi dalam ajaran Islam yang memperbaharui agama disebut mujaddid atau ulama bukan Nabi sebagaimana yang terdapat dalam hadis Nabi “sesungguhnya Allah mengutus kepada umat setiap seratus tahun seorang mujjaddid yang mempurifikasi agamanya”. Hadis ini jelas mengatakan bahwa tidak ada istilah Nabi pengiring sesudah Nabi Muhammad Saw.
Nabi Muhammad S.a.w. bersabda: “akan ada pada umat ku 30 pendusta semuanya mengaku Nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada Nabi setelah ku” (H.R. Abû Dâwd). Khutbah terakhir Rasulullah mengatakan “wahai manusia, tidak ada Nabi atau Rasul yang akan datang sesudah ku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Oleh karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepada mu. Aku tinggalkan dua hal, yaitu Alquran dan Sunnah, Apabila kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” (H.R. Al-Muslim)
Pengakuan adanya Nabi sesudah Muhammad S.a.w. bukan masalah baru, pengakuan “Nabi karbetan” (palsu) itu sudah ada pada zaman Nabi, seperti Musaylamah Al-Kazzab, Thulayhah Al-Asadî, Habalah b. Ka‘ab dan lain-lain. Akan tetapi, itu semua mengalami kegagalan, bahkan mendapatkan hinaan dan cemohan dari masyarakat. Seperti pengikut Ahmadiyah yang meyakini Mirzâ Khulam Ahmad sebagai Nabi juga mendapat cemoohan masyarakat yang ada disekitarnya sehingga menimbulkan tindakan anarkis dan intimidasi terhadap penghancuran rumah ibadah dan pengusiran kaumnya, bahkan pemerintah Arab Saudi melarang jama‘ah ini untuk menunaikan ibadah haji karena sudah dianggap tidak bagian dari agama Islam.
Nabi Muhammad Saw. mengakhiri garis panjang para Rasul. Ajaran Tuhan tetap berlanjut dan akan tetap terus demikian. Namun, tidak pernah ada dan tidak akan ada lagi Nabi sesudah Muhammad. Zaman akhir memerlukan para pemikir dan pembaharu bukan Nabi-Nabi. Masalah ini adalah cemeti bagi kita untuk lebih serius menjalankan ajaran agama dan menegakkan dakwah Islamiyah, agar Islam tetap solid dan dapat dipahami serta terhindar dari ketidakpahaman yang dapat merusak sentral akidah umat Islam.
Predikat Muhammad sebagai khatam al-nabiyyîn wa al-mursalin penutup para nabi dan rasul, baik Nabi yang menasikhkan syari‘at Muhammad, ataupun Nabi yang dikatakan “pengiring” Muhammad. Oleh karena itu, manusia dipandang sudah mencapai tingkat kedewasaan rasional dan oleh karena itu wahyu tidak akan diturunkan lagi.
Sangat banyak implikasi positif, baik sosial maupun keagamaan dari konsep Nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para Nabi, dimana Alquran sebagai warisannya maka manusia tinggal harus mengembangkan apa yang telah diwariskan itu, dalam semangat persamaan hak dan kewajiban dan dengan penuh rasa tanggung jawab pribadi kepada Allah. Sesungguhnya, dengan begitu pula maka manusia terbebas dari keharusan tunduk kepada yang tidak semestinya dan terbebas pula dari “godaan kultur dan mitologi”. Jalan lurus terbentang di hadapan, dan tinggallah kita harus menempuhnya sesuai dengan konsep Islam. Maka konsep Nabi Muhammad sebagai penutup segala Nabi terkait erat dengan semangat ajaran tauhid.[]

*Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara, S-1 Fakultas Agama Islam Universitas Islam Sumatera Utara (2005), dan S-2 Pascasarjana Intitut Agama Islam Sumatera Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: